Info Pondok
Selasa, 16 Apr 2024
  • Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan : 1. Tahfidzul Qur'an 2. Gramatikal Kitab Kuning 3. Intensif Bahasa Inggris
  • Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan : 1. Tahfidzul Qur'an 2. Gramatikal Kitab Kuning 3. Intensif Bahasa Inggris
24 Oktober 2023

KONTRAPRODUKTIF RAGAM LEMBAGA DI DESA GANJARAN

Sel, 24 Oktober 2023 Dibaca 69x

Takaran Positif
Seperti diketahui bahwa desa Ganjaran selain dikenal memiliki pesantren yang bertebaran, juga bertumbuh lembaga pendidikan, baik bersifat formal dengan segala tingkatan, seperti jenjang TK/RA, MI, MTs, MA, SMP dan SMK, maupun non formal dengan seluruh variannya, seperti TPQ dan Madrasah Diniyah.

Dari sisi manfaat, tentu pertumbuhan lembaga pendidikan itu benar-benar beririsan dengan status desa yang pernah dideklarasikan sebagai “Desa Santri” pada tanggal 21 Oktober 2016 yang lalu. Sebagai sebuah lembaga yang diyakini sepi dari tendensi-tendensi profit, apalagi hanya motivasi membuat buncit perut pribadi, maka keberadaan lembaga-lembaga tersebut dipastikan menyimpan faidah dahsyat yang bisa dikeruk untuk anak bangsa.

Takaran Produktivitas
Kontraproduktif dalam tulisan singkat ini dimaknai sebagai fakta yang menggambarkan sebuah efektivitas yang sangat minimal. Pemaknaan sedemikian ini tentu saja diarahkan kepada lembaga-lembaga pendidikan di desa yang berada di wilayah Gondanglegi Malang itu.
Kenapa kontraproduktif? Kenyataan yang ada memperlihatkan bahwa terdapat sekolah-sekolah dengan jenjang yang sama, dibawah institusi yang serupa, masih ditambah jarak antara satu lembaga dengan lembaga lainnya begitu berhimpitan, nyaris tanpa berjauhan, dan bertetangga.
Bagaimana akan produktif? Dilihat dari sisi produktivitas, jelas-jelas perkembangan semacam ini akan membuat setiap orang menggaruk kepala, dan pasti pusing. Bagaimana bisa, jenjang yang sama, dan institusi pemerintah yang sama, akan menghasilkan hal yang nyata di bidang pendidikan?
Sebenarnya dari segi keabsahan, lembaga pendidikan yang didirikan tidak dapat diingkari. Betul-betul absah dipandang dari sudut apapun. Diluar sudah mengantongi ijin operasional, juga diinisiasi langsung oleh kiainya, sang empu lembaga tersebut.
Sebagaimana dimaklumi, seorang kiai merupakan tokoh sentral yang memiliki otoritas tak berbatas di lingkungannya. Bukan rahasia lagi, sosok kiai di dalam lingkaran pesantrennya tampil bak raja diraja yang memiliki kekuasaan absolut yang haram di lawan. Titahnya diposisikan sebagai sabda yang wajib diamini. Sehingga ketika ia menghendaki sesuatu, maka menampik keputusannya dinilai sebuah pembangkangan kelas berat.
Dalam konteks pengembangan lembaganya, tatkala seorang kiai berhasrat mengembangkan pendidikannya dengan mendirikan unit baru, sementara dalam kenyataannya acapkali bertabrakan dengan kiai lainnya yang memendam nafsu yang sama, maka disinilah kemudian gumpalan problematika itu memuncrat.

Dimana sisi kontraproduktif itu? Pertama, kendati isi kalbu tidak mungkin dibedah, tetapi birahi masing-masing tokoh agama itu patut dicurigai sebagai ekspresi ego “ananiyah”. Kedua, Sekalipun statusnya mandiri antara satu dengan yang lain, namun karena masing-masing lembaga itu dalam geografis yang sama dan jenjang yang tak beda, maka yang diperebutkan pasti satu kue. Ketiga, Tidak bisa dibantah, bila satu kue yang harus dicabik-cabik, maka urutan berikutnya kompitisi antar lembaga pasti tidak terelakkan. Seideal apapun sosoknya, apabila terjerembab dalam keadaan sedemikian itu, jelas jargon “fastabiqul khairat” akan mudah dipersangkakan oleh khalayak berubah bunyi menjadi “fastabiqus syahawat”.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan? Jawabnya, tidak ada. Sebab nasi telanjur menjadi bubur. Hal yang tampak di depan mata, ragam lembaga beserta adidaya masing-masing, kemudian mengembangkan unit baru di dalamnya, dengan varian yang sama antara satu dengan yang lain, pasti memunculkan gesekan-gesekan antar mereka. Dan akhir riwayatnya, yang kuat akan menggurita, sementara yang lemah bakal menjelma menjadi kecoa kepanasan.

Andai kata sejak awal, para tokoh rela menelanjangi diri mereka masing-masing dengan membuang jubah status dan egoismenya, lalu melapangkan dada untuk saling bersalaman, shering dalam satu meja, kemudian memilah lembaga yang ingin dikembangkan sekaligus berbagi tugas antar mereka, niscaya “Desa Santri” ini akan menjadi panggung besar yang mampu menampilkan orkestra spektakuler para kiai dalam memainkan peran-peran sebagai pendidik. Mereka seakan muncul berupa lakon-lakon berbeda, namun tetap dalam satu altar yang sama.

Fenomena yang ada, tentu jauh panggang dari api, maka kata akhirnya: “Benar-benar kontraproduktif”.

Penulis : Muhammad Madarik
Staf Pengajar IAI Al-Qolam Gondanglegi Malang

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 


Video Terbaru

Pengumuman

Diterbitkan :
3 Fasilitas yang di dapat apabila daftar di Gelombang 1 Unit MARU II
Open Registration !!! 📋📋📋 Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan..
Diterbitkan :
3 Fasilitas yang di dapat apabila daftar di Gelombang 1 Unit SMARU
Open Registration !!! 📋📋📋 Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan..
Diterbitkan :
3 Fasilitas Yang di dapat apabila daftar di Gelombang 1 Unit SMPRU
Open Registration !!! 📋📋📋 Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan..