Info Pondok
Selasa, 16 Apr 2024
  • Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan : 1. Tahfidzul Qur'an 2. Gramatikal Kitab Kuning 3. Intensif Bahasa Inggris
  • Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan : 1. Tahfidzul Qur'an 2. Gramatikal Kitab Kuning 3. Intensif Bahasa Inggris
15 Oktober 2023

MENYOAL PERAN MAHASISWA DI ERA GAWAI

Ming, 15 Oktober 2023 Dibaca 40x

Kendati masa hari ini adalah akselerasi teknologi, namun eksistensi mahasiswa sebagai pelajar sekaligus pilar kekuatan dan perubahan di tengah-tengah masyarakat (community force and agent of change) diandaikan tetap kokoh dan tak pernah goyah. Oleh sebab itu, karakteristik mahasiswa yang ideal tetap ter-cover dalam pribadi yang memiliki tanggungjawab dan mempunyai sikap kritis, rasional, dan obyektif sebagai pelajar dalam dunia kampus.
Tetapi dewasa ini sebagian besar mahasiswa kurang menyadari eksistensi, dan posisinya. Pola pikir kebanyakan masih belum beranjak dari kungkungan rutinitas yang cenderung jumud. Sebuah aktivitas yang melingkar antara kelas, dan tempat domisili.
Bukti empirik, dan riil di lapangan menunjukkan bahwa mahasiswa yang cenderung bersikap apatis, hedonis, dan secara sadar memastikan diri memilih model hidup yang jelas-jelas mengekor gaya guliran zaman. Padahal tidak dapat dipungkiri, zaman dengan segenap laju globalisasi, dan modernisasi yang ditandai dengan percepatan teknologi menawarkan berbagai macam pola hidup yang serba glamor.
Tentu pembacaan terhadap fakta demikian ini tidak bisa digeneralisir kepada semua anak kampus. Di bagian lain, dari sudut-sudut kampus masih tercipta kaum akademisi yang memiliki pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif. Tetapi semua pihak pasti tidak dapat membantah atas gejala-gejala munculnya sosok-sosok mahasiswa yang bisu untuk menyuarakan ketidakadilan, buta terhadap ketimpangan realita sosial, dan lemah untuk memperjuangkan sebuah aspirasi.

Sebagian dari mereka nyaris dininabobokkan oleh candu teknologi. Dalam konteks ini, tidak sedikit mahasiswa yang terjebak dalam zona nyaman, dan enggan untuk keluar dari garis lingkaran kenyamanan itu sehingga rata-rata mereka tidak mempunyai keinginan, dan bahkan cenderung menghindar dari perubahan yang dalam pandangan mereka mungkin menimbulkan ketidaknyamanan. Sebab hal itu merupakan tantangan baru yang akan meleburkan zona nyaman yang selama ini dinikmati.

Padahal sebenarnya, tantangan adalah bagian tak terpisahkan dari perkembangan yang bakal memicu bertumbuhnya jati diri. Oleh karenanya, melepaskan diri dari kungkungan zona nyaman seharusnya menjadi keniscayaan yang wajib dihadapi oleh setiap mahasiswa. Apalagi sebagai bagian dari generasi muda, mahasiswa yang diandaikan sebagai pemimpin masa depan, mereka harus berani menghadapi tantangan, dan keluar dari zona nyaman yang tidak menghasilkan perkembangan nyata.
Harapan besar sebetulnya dipikulkan di atas pundak mahasiswa. Betapa tidak, suara-suara mereka kerap kali merepresentasikan kegundahan lapisan masyarakat kecil. Tidak jarang melalui teriakan mereka pula nasib sekelompok dalam entitas warga mampu diubah, bahkan lewat tangan mengepal mereka dinding kokoh status que penguasa dzalim dapat dirobohkan.
Tentu tidak mengherankan, sebab kampus merupakan wahana yang sangat ideal untuk mempercepat proses pengembangan potensi diri (accelerated self-development). Justeru di dalam lingkungan kampus, mahasiswa memiliki akses ke berbagai sumber daya, dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengubah kepribadian, dan pola pikir (revolution of character and mindset). Revolusi karakter tidak hanya berarti mengubah diri sendiri, tetapi juga memiliki dampak positif yang sangat signifikan bagi setiap kalangan di sekitar kehidupan mahasiswa.
Sejak awal, perguruan tinggi telah menyediakan perangkat yang membuka kemungkinan bagi mahasiswa untuk tumbuh, dan berkembang. Selain aktivitas perkuliahan, lalu ditambah dengan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, organisasi kemahasiswaan, dan proyek-proyek penelitian, kemudian diperkaya dengan nilai-nilai mimbar bebas, maka keberadaan mahasiswa diproyeksikan akan mampu tampil sebagai kaum akademisi yang punya sensitivitas di tengah-tengah masyarakat sehingga sanggup menjerit tatkala menemukan otoritas tirani.

Alhasil, mahasiswa diciptakan sebagai generasi bagai pedang bermata dua; sebagai kelompok akademisi yang menyimpan segudang idealisme dapat melangit dengan segala teori dan konsep-konsep keilmuannya, tetapi pada saat yang sama mereka bisa membumi dengan merelakan diri menjadi garda terdepan dalam mengambil peran-peran pembelaan.

Dalam banyak diskursus kalangan pemerhati pendidikan tinggi, seringkali membagi peran penting yang dilekatkan pada diri mahasiswa menjadi lima:
Pertama, agen perubahan (agent of change). Secara normatif, mahasiswa dianggap mempunyai kesempatan yang cukup di dalam mengawinkan antara ranah ilmu pengetahuan dan akses-akses implementatif yang memungkinkan untuk mempertajam kemampuan berpikir kritis sekaligus memperuncing analisis lebih terbuka.
Bermodal semangat sebagai penggerak perubahan yang energik, mahasiswa akan gersah dan secara otomatis tergerak jiwa mudanya untuk membaca fenomena saat menyaksikan kondisi sosial dan tatanan masyarakat yang diwarnai ketidakadilan.
Kedua, pengontrol kehidupan sosial (social control). Peran ini sebetulnya bagai dua sisi mata uang dengan peran pertama. Hanya saja, kontrol sosial ini lebih banyak mendudukkan mahasiswa pada posisi mengembangkan berpikir kritis sehingga bisa melihat sesuatu secara lebih mendalam, dan menemukan sisi lain yang tidak banyak ditemukan oleh orang lain.
Ketiga, penguat moral (moral force). Peran ini merupakan pondasi yang selayaknya dimiliki oleh setiap mahasiswa, karena moral adalah landasan dasar jati diri, dan kepribadian seseorang. Sementara dalam banyak narasi, mahasiswa semenjak awal telah dinobatkan sebagai kelompok generasi yang dinilai mampu berkontribusi memperkuat moralitas bangsa.
Tetapi angan-angan banyak pihak ini sulit diwujudkan jika mahasiswa tidak memiliki keberanian untuk memproklamirkan diri sebagai pengusung moralitas melalui contoh, dan keteladanan. Bahkan misi perubahan, dan kontrol sosial hanya berupa isapan jempol belaka, apabila kekuatan moral belum benar-benar menjadi kedirian para mahasiswa.
Keempat, penjaga nilai (guardian of value). Lebih dari sekedar penguat moral (moral force), mahasiswa diagendakan sebagai penjaga nilai-nilai. Kejujuran, empati, keadilan, tanggung jawab, dan lainnya merupakan tonggak utama secara universal yang selalu berkelindan dengan penguatan moralitas. Prasyarat pokok peran ini kurang lebih sama dengan penguat moral (moral force).

Kelima, penerus bangsa (iron stock). Dalam peran ini, mahasiswa merupakan harapan banyak orang (future hope). Cita-cita sedemikian mengharuskan mahasiswa mempunyai kompetensi yang beririsan dengan akhlak mulia.

Sayangnya, peran-peran mahasiswa kini tidak begitu terasa menggigit. Sekalipun tengah bergumul dengan teori, dan konsep, nyatanya kepentingan kaum lemah nyaris tidak terwakili oleh suara lantang mahasiswa. Eksistensi sebagian mereka digerus oleh arus deras teknologi, sehingga tangan terkepal berubah wujud menjadi gesekan lembut di atas gadget.
Padahal ruang yang memungkinkan mahasiswa berkontribusi dalam memperkuat peran-perannya sebagai kaum akademisi cukup beragam, misalnya ikut serta mendiskusikan pengembangan kurikulum yang up to date, dan relevansinya dengan kemajuan teknologi, serta menebarkan keterampilan digital, etika teknologi, serta literasi data yang sudah semakin dibutuhkan masyarakat.
Sehingga, di akhir kalam ini, pantas bila eksistensi mahasiswa perlu disoal lagi.[]

Penulis: Muhammad Madarik
Staf Pengajar IAI Al-Qolam Gondanglegi Malang

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 


Video Terbaru

Pengumuman

Diterbitkan :
3 Fasilitas yang di dapat apabila daftar di Gelombang 1 Unit MARU II
Open Registration !!! 📋📋📋 Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan..
Diterbitkan :
3 Fasilitas yang di dapat apabila daftar di Gelombang 1 Unit SMARU
Open Registration !!! 📋📋📋 Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan..
Diterbitkan :
3 Fasilitas Yang di dapat apabila daftar di Gelombang 1 Unit SMPRU
Open Registration !!! 📋📋📋 Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan..