Info Pondok
Selasa, 16 Apr 2024
  • Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan : 1. Tahfidzul Qur'an 2. Gramatikal Kitab Kuning 3. Intensif Bahasa Inggris
  • Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan : 1. Tahfidzul Qur'an 2. Gramatikal Kitab Kuning 3. Intensif Bahasa Inggris
29 Januari 2024

PENGERTIAN, SEJARAH DAN STRATEGI DAKWAH WALI SONGO

Sen, 29 Januari 2024 Dibaca 260x

Pengertian Wali Songo

Secara etimologis, “Wali” berarti kekasih. Dalam kosmologi Islam, sumber utama “Wali” dapat dilacak pada konsep kewalian yang oleh kalangan penganut sufisme diyakini meliputi sembilan tingkat dengan tugas-tugasnya sesuai wilayahnya sebagaimana paparan Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibnu al-Araby (Ibnu Arabi), yaitu:

  1. Wali Aqthab atau Wali Quthub, yaitu pemimpin dan penguasa para wali di seluruh alam semesta.
  2. Wali Aimmah, yaitu pembantu Wali Aqthab dan menggantikan jika wafat.
  3. Wali Autad, yaitu wali penjaga empat penjuru mata angin.
  4. Wali Abdal, yaitu wali penjaga tujuh musim.
  5. Wali Nuqaba, yaitu wali penjaga hukum syariat.
  6. Wali Nujaba, yang setiap masa berjumlah delapan orang.
  7. Wali Hawariyyun, yaitu wali pembela kebenaran agama, baik bentuk argumentasi maupun senjata.
  8. Wali Rajabiyyun, yaitu wali yang karomahnya muncul setiap bulan Rajab.
  9. Wali Khatam, yaitu wali yang mengurus wilayah kekuasaan umat Islam.

Adapun Songo, dalam bahasa Jawa, artinya Sembilan. Wali Songo berarti Sembilan Wali.

Ada beberapa pendapat mengenai arti Wali Songo:

  1. Ada yang berpendapat, Wali yang sembilan, yang menandakan jumlah wali berjumlah sembilan.
  2. Pendapat lainnya, kata Songo dari kata tsana berasal dari bahasa Arab bermakna mulia.
  3. Menurut lainnya, kata Songo dari kata sana berasal dari bahasa Jawa berarti tempat.
  4. Pendapat berikutnya, Wali Songo adalah sebuah majelis dakwah yang pertama kali didirikan oleh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) pada tahun 1404 M / 808 H.

Setiap anggota Wali Songo saling dikaitkan dengan gelar “Sunan” dalam bahasa Jawa, konteks ini berarti “terhormat”. Sebagian besar Wali Songo juga dijuluki “Raden”, karena mereka keturunan ningrat.

Masyarakat, khususnya orang Jawa, sangat menghormati kuburan para wali yang ditandai dengan ziarah ke lokasi kubur mereka sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih atas manfaat dan perjuangan yang mereka lakukan semasa hidupnya. Dalam tradisi Jawa, kuburan diistilahkan dengan “Pundhen”, sebagian masyarakat menamakan kuburan orang-orang shaleh dengan “Makam”. Sebab itulah, cukup familer di tengah-tengah masyarakat sebuah ujaran: “dimakamkan”, artinya dikebumikan/dikuburkan.

“Secara etimologis, Wali: Kekasih. Dalam kosmologi Islam, Wali diyakini sembilan tingkat dengan tugas-tugasnya. Songo (Jawa): Sembilan. Wali Songo: Sembilan Wali. Arti Wali Songo terdapat beda pendapat. Mereka juga digelari Sunan (Jawa): terhormat, atau Raden, karena keturunan ningrat. Dalam tradisi Jawa, kuburan diistilahkan dengan Pundhen, atau Makam.”

Nama-nama Wali Songo

Sosok-sosok Wali Songo dapat diurai secara singkat sebagai berikut:

  1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
Gambar Ilustrasi – Sunan Gresik

Syaikh Maulana Malik Ibrahim menyebarkan dakwah Islam di kawasan Gresik Jawa Timur, dan diyakini sebagai wali senior dari sembilan Wali Songo. Disebut Sunan Gresik, karena di situ basis wilayah dakwahnya.

Maulana Malik Ibrahim lahir di Champa (Kamboja). Adapun catatan detail tanggal lahirnya tidak diketahui dengan pasti, namun silsilah nasab keturunan Sunan Gresik dipercaya sampai pada Nabi Muhammad SAW melalui jalur Husain bin Ali RA. Sunan Gresik memperoleh didikan langsung dari ayahnya, Barokat Zainul Alam, seorang ulama kesohor di Kamboja.

Maulana Malik Ibrahim hijrah ke daerah Jawa dan berlabuh di Gerwarasi atau Gresik pada abad ke-14, dimana Gresik kala itu dikenal dengan bandar niaga yang maju dan terkenal di wilayah Asia Tenggara. Pada kisaran 1371, ia bersama rombongan berlayar ke Jawa dan menghadap Raja Majapahit Brawijaya untuk mendakwahkan Islam. Agus Sunyoto menjelaskan bahwa Raja Majapahit menolak ajakan Islam, namun menyambut baik kedatangan Sunan Gresik, diangkat menjadi Syahbandar (pihak yang memiliki wewenang di kawasan pelabuhan) dan diizinkan menyebarkan Islam kepada masyarakat setempat. Melalui restu itu, Sunan Gresik lalu mendirikan masjid pertama di desa Pasucinan, Manyar.

Strategi dakwah yang digunakan Sunan Gresik, antara lain:

  1. Ikut serta berdagang di kawasan jalur-jalur niaga. Interaksi langsung dengan masyarakat, mau belajar bahasa daerah setempat, dan ditambah terampil berpergaul, menjadikan Sunan Gresik menarik perhatian penduduk Jawa.
  2. Membangun pesantren untuk mendidik kader-kader penyebar Islam di atas sebidang tanah di pinggiran kota hibah Raja Majapahi yang menaruh hormat kepadanya.
  3. Menempuh jalur politik untuk mendakwahkan Islam dengan cara menikahkan putrinya dengan Raja Majapahit.
  4. Bermodal dukungan politik dan modal sosial yang dimiliki menjadikan Islam berkembang pesat di tanah Jawa.

Dari sisi keluarga, Maulana Malik Ibrahim yang menyebarkan Islam selama 40 tahun itu memiliki tiga istri:

  1. Siti Fathimah putri Ali Nurul Alam Maulana Israil (Raja Champa). Berputra: Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah.
  2. Siti Maryam putri Syaikh Subakir. Berputra: Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Ahmad.
  3. Wan Jamilah putri Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi. Berputra: Abbas dan Yusuf.

Selanjutnya Sharifah Sarah binti Maulana Malik Ibrahim dinikahkan dengan Sayyid Fadhal Ali Murtadha [Sunan/Raden Santri] dan memiliki putera: Haji Utsman (Sunan Manyuran) dan Utsman Haji (Sunan Ngudung).

Sunan Gresik wafat pada 1419, dimakamkan di desa Gapura Wetan dekat alun-alun kota Gresik.

“Maulana Malik Ibrahim putra Barokat Zainul Alam lahir di Champa (Kamboja). Catatan lahirannya tidak diketahui, tetapi dipercaya silsilahnya sampai pada Nabi Muhammad SAW lewat Husain bin Ali. Ia hijrah ke Jawa kisaran 1371, di sambut Raja Majapahit dan diangkat menjadi Syahbandar. Strategi dakwah wali senior itu melalui niaga. Ia wafat pada 1419, dimakamkan di desa Gapura Wetan Gresik.”

  • Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Gambar Ilustrasi – Sunan Ampel

Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat, keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad SAW. Menurut riwayat, ia adalah putra Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dan seorang putri Champa yang bernama Dewi Condro Wulan putri Raja Champa terakhir dari Dinasti Ming. Ia lahir pada tahun 1401 di daerah Champa Vietnam.

Kedatangan Raden Rahmat ke Majapahit diperkirakan terjadi awal dasawarsa keempat abad ke-15, saat Arya Damar sudah menjadi Adipati Palembang sebagaimana riwayat yang menyatakan bahwa sebelum ke Jawa, Raden Rahmat telah singgah ke Palembang. Menurut Thomas W. Arnold, sewaktu di Palembang Raden Rahmat menjadi tamu Arya Damar selama dua bulan, dan dia berusaha memperkenalkan Islam pada raja muda Palembang itu. Arya Damar yang sudah tertarik kepada Islam hampir saja diikrarkan menjadi Islam. Namun, karena tidak berani menanggung risiko menghadapi tindakan rakyatnya yang masih terikat pada kepercayaan lama, ia tidak menegaskan islamannya di depan khalayak. Menurut cerita setempat, setelah memeluk Islam, Arya Damar memakai nama Ario Abdillah.

Keterangan dari Hikayat Hasanuddin yang dikupas oleh J. Edel menjelaskan bahwa pada waktu Kerajaan Champa ditaklukkan oleh Raja Koci, Raden Rahmat sudah bermukim di Jawa. Itu berarti, ia datang ke Jawa sebelum tahun 1446 M, di saat-saat Champa diserbu Raja Koci Vietnam. Hal itu senada dengan sumber dari Serat Walisana yang menyatakan bahwa Prabu Brawijaya, Raja Majapahit mencegah Raden Rahmat kembali ke Champa karena Champa sudah runtuh akibat kalah perang dengan Kerajaan Koci. Penempatan Raden Rahmat di Surabaya dan saudaranya di Gresik, tampaknya memiliki kaitan erat dengan suasana politik di Champa, sehingga dua bersaudara tersebut ditempatkan di Surabaya dan Gresik, kemudian dinikahkan dengan perempuan setempat.

Sunan Ampel menikah dengan:

  1. Dewi Condrowati (Nyai Ageng Manila), putri Adipati Tuban bernama Arya Teja. Melahirkan putera: Sunan Bonang, Siti Syari’ah, Sunan Derajat, Sunan Sedayu, Siti Muthmainnah, dan Siti Hafsah
  2. Dewi Karimah putri Ki Kembang Kuning. Melahirkan putera: Dewi Murtasiyah, Asyiqah, Raden Husamuddin (Sunan Lamongan), Raden Zainal Abidin (Sunan Demak), Pangeran Tumapel dan Raden Faqih (Sunan Ampel 2).

Strategi dakwah sosok yang di anggap sesepuh para wali lainnya itu:

  1. Lebih banyak bergerak di bidang pendidikan. Pesantrennya bertempat di Ampel Surabaya merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa Timur.
  2. Aktivitas syiar Islam lebih mengarah kepada akar rumput. Diantara ajarannya yang terkenal adalah: “Molimo”, Mo (tidak), limo (lima) dengan makna filosofi: 1) Mo Mabok: Enggan yang memabukkan; 2) Mo Main: Enggan main judi dan sejenisnya; 3) Mo Madon: Enggan berzina dan sejenisnya; 4) Mo Madat: Enggan memakai narkoba dan sejenisnya; dan 5) Mo Maling: Enggan mencuri dan sejenisnya.

Sunan Ampel meninggal pada tahun 1481. Konon, ia wafat di Demak namun dimakamkan di sekitar lokasi masjid Ampel, Surabaya Jawa Timur.

Sunan Ampel bernama Raden Rahmat, putra Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dan Dewi Condro Wulan putri Raja Champa. Ia lahir pada 1401 di Champa Vietnam. Abad 15, ia singgah di Palembang sembari berdakwah sebelum datang ke Majapahit di Jawa. Strategi dakwah sesepuh para wali itu di bidang pendidikan dan syiar Islam. Ajarannya yang terkenal “Molimo”. Wafat tahun 1481 di Demak tetapi dimakamkan di lokasi masjid Ampel, Surabaya Jawa Timur.

  • Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)
Gambar Ilustrasi – Sunan Bonang

Makhdum Ibrahim adalah putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati (Nyai Ageng Manila) yang dilahirkan pada tahun 1465 di Rembang.

Dalam hal pendidikan, Sunan Bonang belajar ilmu agama pada ayahnya, yaitu Sunan Ampel bersama santri-santri lainnya, seperti Sunan Giri, Raden Patah dan Raden Kusen. Ia juga menuntut ilmu pada Syaikh Maulana Ishak, sewaktu bersama-sama Sunan Giri ke Malaka dalam perjalanan haji ke tanah suci.

Sunan Bonang dikenal menguasai ilmu fikih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, dan ilmu silat dengan kedigdayaan yang menakjubkan. Bahkan, masyarakat mengenalnya sebagai sosok yang sangat pandai mencari lokasi sumber air.

Strategi dakwah Sunan Bonang banyak melalui kesenian untuk menarik penduduk Jawa agar memeluk agama Islam, antara lain:

  1. Penggubah suluk “Wijil” dan tembang “Tombo Ati”, yang masih sering dinyanyikan orang. Pembaharu pada gamelan Jawa ialah dengan memasukkan Rebab (Arab: الربابة “busur = instrumen”, jenis alat musik senar berbentuk gitar kecil) dan Bonang (alat musik pukul terbuat dari perunggu, berbentuk belanga atau gong). Alat musik yang terakhir sering dihubungkan dengan namanya.
  2. Universitas Leiden Belanda menyimpan sebuah karya sastra bahasa Jawa bernama Het Boek van Bonang (Buku Bonang). Tetapi menurut G.W.J. Drewes, itu bukan karya Sunan Bonang, tetapi mungkin mengandung ajarannya.

Sunan Bonang diperkirakan wafat pada tahun 1525. Ia dimakamkan di daerah Tuban, Jawa Timur.

Makhdum Ibrahim putra Sunan Ampel, dilahirkan tahun 1465 di Rembang. Ia belajar pada ayahnya dan pada Syaikh Maulana Ishak. Sosok yang dikenal lihai mencari sumber air itu menguasai fikih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, dan ilmu silat. Strategi dakwahnya lewat kesenian, seperti menggubah suluk “Wijil” dan “Tombo Ati”, pembaharu gamelan Jawa. Makhdum yang dikenal Sunan Bonang wafat tahun 1525 dan dimakamkan di Tuban Jawa Timur.

  • Sunan Drajat
Gambar Ilustrasi – Sunan Drajat

Sunan Drajat adalah salah satu dari Wali Songo. Nama kecilnya adalah Raden Hasyim (sumber lain menyebutnya, Raden Qosim), kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470 M. Ia merupakan saudara dari Sunan Bonang yang terkenal cerdas. Setelah pelajaran Islam dikuasai, ia me­ngambil tempat di desa Drajat wilayah kecamatan Paciran kabupaten Lamongan sebagai pusat kegiatan dakwahnya sekitar abad XV dan XVI M. Ia memegang kendali keprajaan di wilayah perdikan Drajat sebagai otonom kerajaan Demak selama 36 tahun.

Strategi dakwah Sunan Drajat antara lain:

  1. Berjiwa sosial, sangat memperha­tikan nasib kaum fakir miskin.
  2. Mendahulukan usaha kesejahteraan sosial, kemudian memberikan pemahaman tentang ajaran Islam.
  3. Menekankan motivasi pada etos kerja keras, dan kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran.
  4. Tembang “Macapat Pangkur” dinilai sebagai ciptaannya. Gamelan “Singomengkok” adalah peninggalannya yang tersimpan di Museum Daerah Sunan Drajat, Lamongan.

Usaha itu lebih mudah karena Sunan Drajat dapat kewenangan mengatur wilayahnya yang mempu­nyai otonomi.

Sebagai penghargaan atas keberha­silan menyebarkan Islam dan usaha menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warga, ia memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Patah Sultan Demak pada tahun Saka 1442 (1520 M). Sunan Drajat diperkirakan wafat pada 1522.

Sunan Drajat bernama kecil Raden Hasyim, bergelar Raden Syarifudin. Ia lahir tahun 1470 M, saudara Sunan Bonang. Setelah Islam dikuasai, ia berdomisili di desa Drajat Lamongan sebagai pusat dakwahnya abad XV dan XVI M. Memegang kendali keprajaan di wilayah perdikan Drajat sebagai otonom kerajaan Demak selama 36 tahun. Strategi dakwahnya diantaranya gerakan sosial, menekankan motivasi etos kerja. Tembang “Macapat Pangkur” ciptaannya. Gamelan peninggalannya “Singomengkok”, kini tersimpan di Museum Daerah Lamongan. Diperkirakan wafat pada 1522.

  • Sunan Kudus (Ja’far Shodiq)
Gambar Ilustrasi – Sunan Kudus

Bernama Ja’far Ash-Shadiq, Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung dan Dewi Sari putri Ahmad Wilwatikta. Ulama yang lahir pada 1500 M itu anggota dewan Wali Songo.

Strategi dakwah Sunan Kudus banyak dilakukan di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa.

  1. Sunan Kudus memiliki peran yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak, yaitu sebagai panglima perang, penasihat Sultan Demak, dan hakim peradilan negara.
  2. Mursyid Thariqah. Diantara muridnya, Sunan Prawoto, penguasa Demak, dan Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan.
  3. Peninggalan lainnya adalah permintaannya kepada masyarakat untuk tidak memotong hewan kurban sapi dalam Idul Adha demi menghormati penganut agama Hindu dengan mengganti kerbau. Pesan ini masih ditaati oleh masyarakat Kudus.
  4. Peninggalannya yang terkenal ialah Masjid Menara Kudus, yang berarsitektur gaya campuran Hindu-Islam.

Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550.

Sunan Kudus bernama Ja’far Ash-Shadiq putra Sunan Ngudung dan Dewi Sari putri Ahmad Wilwatikta, lahir pada 1500 M. Strategi dakwahnyan berperan di Kesultanan Demak, Mursyid Thariqah. Peninggalannya antara lain, kurban sapi Idul Adha diganti kerbau demi menghormati penganut Hindu dan Masjid Menara Kudus. Diperkirakan wafat pada tahun 1550.

  • Sunan Giri
Gambar Ilustrasi – Sunan Giri

Sunan Giri punya beberapa nama, yaitu: Raden Paku, Maulana Ainul Yaqin dan Jaka Samudra.

Nama ayah dan ibu Sunan Giri berbeda-beda dalam sejarah:

  1. Dalam manuskrip filologi “Serat Walisana”, ayah-ibu Sunan Giri adalah Sayyid Yaqub atau Pangeran Raden Wali Lanang dan Retno Sabodi.
  2. Dalam “Babad Tanah Jawi”, ayah-ibu Sunan Giri adalah Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu.

Perbedaan sebutan ini tidak berarti kerancuan sejarah, tetapi hanya perbedaan panggilan belaka, karena kedua nama ibu itu tetap merujuk pada satu orang perempuan, yaitu putri dari Prabu Menak Sembuyu, penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit.

Dikisahkan bahwa bayi Sunan Giri dituduh sebagai biangnya wabah yang melanda Blambangan oleh Patih Bajul Sengata. Sang Senopati menyarankan Prabu Menak Sembuyu untuk membunuh putra dari Dewi Sekardadu. Tetapi upaya itu tidak terjadi, sebab Sunan Giri dilarung ke laut Blambangan oleh ibunya, sebagai aksi penyelamatan. Saat di laut antara Blambangan dan Gili Manuk, bayi itu diselamatkan oleh awak kapal bernama Abu Hurairoh, anak buah dari Nyi Ageng Pinatih, janda kaya raya dari Gresik.

Bayi itu diberi nama Jaka Samudra Nyi Ageng Pinatih karena pernah mengambang di lautan, lalu dirubah menjadi Raden Paku sesuai pemberian dari ayahnya, lalu diganti menjadi Maulana Ainul Yaqin oleh gurunya, yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel).

Sunan Giri merupakan murid dari Sunan Ampel bersama saudara seperguruan Sunan Bonang. Dikisahkan bahwa Raden Paku dan Raden Mahdum Ibrahim mau pergi ke Makkah guna menuntut ilmu dan berhaji. Saat sampai di Malaka lalu bertemu dengan Maulana Ishak, ayah Raden Paku, keduanya dididik tentang berbagai ilmu keislaman, termasuk ilmu tasawuf.

Strategi dakwah terdapat dalam beberapa gerakan, antara lain:

  1. Dalam pendidikan. Mendirikan sebuah pesantren Giri di sebuah perbukitan desa Sidomukti Gresik. Giri (bahasa Jawa) berarti gunung. Sejak itulah, ia dikenal dengan sebutan Sunan Giri.
  2. Dalam tasawuf. Di dalam sumber yang dicatat bahwa terdapat silsilah tarekat Syathariyah yang menyebut nama Syaikh Maulana Ishak dan Raden Paku sebagai gurunya.
  3. Dalam kesenian. Beberapa karya seni Jawa yang dianggap dihubungkan dengan Sunan Giri, diantaranya permainan-permainan anak, seperti JelunganCublak Suweng serta beberapa gending (instrumental Jawa), seperti Asmaradana dan Pucung.

Sunan Giri lahir di Blambangan tahun 1442 M dan meninggal tahun 1506 dimakamkan di desa Giri, Kebomas Gresik.

Sunan Giri punya nama: Raden Paku, Maulana Ainul Yaqin dan Jaka Samudra. Nama ayah ibunya berbeda-beda: Sayyid Yaqub (Pangeran Wali Lanang dan Retno Sabodi) atau Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu. Ini bukan kerancuan sejarah, karena nama itu tetap merujuk pada putri Prabu Menak Sembuyu. Sunan Giri dan Sunan Bonang merupakan murid Sunan Ampel dan Maulana Ishak. Keduanya dididik tentang ilmu Islam. Strategi dakwahnya: Bidang pendidikan, bidang tasawuf tercatat dalam tarekat Syathariyah dan bidang kesenian, seperti JelunganCublak Suweng serta gending (Jawa), seperti Asmaradana. Ia lahir di Blambangan tahun 1442 M dan wafat tahun 1506, dimakamkan di Giri, Gresik.

  • Sunan Kalijaga
Gambar Ilustrasi – Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga bernama asli Raden Said merupakan putra Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta (Raden Sahur / Sayyid Ahmad bin Mansur / Syaikh Subakir).

Menurut cerita, sebelum tercatat sebagai Wali Songo, Raden Said adalah perampok yang selalu mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan Hasil Bumi di kerajaannya. Ia merampok orang-orang yang kaya, lalu hasil curiannya dibagikan kepada orang-orang yang miskin. Hal ini dilakukan terdorong oleh tingkat kepedulian terhadap rakyat tak mampu.

Saat Raden Said berada di hutan, ia melihat seorang kakek yang bertongkat. Karena tongkat itu dilihat seperti tongkat emas, ia merampas tongkat itu. Katanya, hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang yang miskin. Tetapi sang kakek menasihati Raden Said bahwa Allah SWT tidak akan menerima amal dengan cara semacam itu. Lalu, sang kakek itu menunjuk pohon aren menjadi emas dan mengatakan bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha, maka ambillah buah aren emas tersebut.

Ternyata nurani Raden Said berkata lain. Ia justeru ingin menimba ilmu dari kakek itu hingga menyusul menyusuri sungai. Sang kakek kemudian memerintahkannya untuk bersemedi sambil menjaga tongkat yang ditancapkan ke tepi sungai dan tidak boleh beranjak sebelum sang kakek datang. Perintah pun dipatuhi dalam waktu lama, sehingga tanpa disadari akar dan rerumputan telah menutupi dirinya. Kakek itu adalah Sunan Bonang.

Tiga tahun berlalu, Sunan Bonang datang membangunkan si murid karena telah menjaga tongkatnya. Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga, diberi pakaian baru dan diberi pelajaran agama. Semenjak itu Raden Said yang dikenal dengan Sunan Kalijaga mampu berdakwah.

Sunan Kalijaga diketahui menikah dengan Dewi Sarah putri Maulana Ishaq dan memiliki putra:

  1. Sunan Muria.
  2. Dewi Ruqayyah.
  3. Dewi Sofiah.

Sunan Kalijaga juga memperistri Dewi Sarokah puteri Sunan Gunung Jati dan memiliki putra:

  1. Kanjeng Ratu Pembayun yang menjadi isteri Sultan Trenggono.
  2. Nyai Ageng Panenggak yang kemudian kawin dengan Kyai Ageng Pakar.
  3. Sunan Hadi, kelak menggantikan Sunan Kalijaga sebagai Kepala Perdikan Kadilangu.
  4. Raden Abdurrahman.
  5. Raden Ayu Penengah (Ibu dari Ki Panjawi).

Sunan Kalijaga juga menikahi Syarifah Zainab putri Syaikh Siti Jenar dan memiliki seorang putri bernama Nyai Ratu Mandoko (Ibu dari Sultan Hadiwijaya).

Strategi dakwah Sunan Kalijaga lebih banyak di tataran kebudayaan. Berikut beberapa daftar warisan budaya Sunan Kalijaga:

  1. Seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk hasil gubahannnya yang populer adalah “Ilir-ilir”, “Gundul-gundul Pacul”.
  2. Penggagas baju takwa, perayaan Sekaten, garebeg maulud, serta lakon carangan “Layang Kalimasada” dan “Petruk Dadi Ratu”.
  3. Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga.
  4. Ikut merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga wafat sekitar 1592 M. Beliau dimakamkan di daerah Kadilangu, Demak. Haul Sunan Kalijaga diperingati setiap 10 Muharram oleh masyarakat Demak.

Sunan Kalijaga bernama Raden Said putra Adipati Tuban, Tumenggung Wilatikta. Saat muda ia perampok yang derma pada orang miskin. Bertemu Sunan Bonang, berguru, ditugasi menjaga tongkat di tepi sungai, lalu dijuluki Kalijaga. Strategi dakwahnya: Seni ukir, wayang, gamelan, serta menggubah “Ilir-ilir”, “Gundul-gundul Pacul”, penggagas baju takwa, perayaan Sekaten, garebeg maulud, lakon “Layang Kalimasada” dan “Petruk Dadi Ratu” dan mengkonsep lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun, dua beringin dan masjid. Ikut merancang Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) salah satu kreasinya. Ia wafat 1592 M, dimakamkan di Kadilangu, Demak.

  • Sunan Muria (Raden Umar Said)
Gambar Ilustrasi – Sunan Muria

Sunan Muria bernama asli Umar Said adalah putra Sunan Kalijaga dan Dewi Sarah putri Maulana Ishaq.

Sunan Muria dan Sunan Kudus berguru kepada Sunan Ngerang, seorang ulama yang disegani masyarakat karena ketinggian ilmunya. Sunan Ngerang yang juga disebut Ki Ageng Ngerang memiliki peran penting dalam menyebarkan Islam di pesisir utara pulau Jawa, tepatnya wilayah Pati dan Selat Muria.

Dikisahkan bahwa suatu saat Sunan Ngerang mengadakan syukuran untuk putrinya, Dewi Roroyono yang usianya genap dua puluh tahun. Para murid, seperti Sunan Muria, Sunan Kudus, Adipati Pathak Warak dari Mandalika Jepara dan lainnya diundang untuk hadir. Ketika Dewi Roroyono dan adiknya, Roro Pujiwati, keluar menghidangkan makanan, hati Adipati Pathak Warak terpesona dan tergila-gila oleh kecantikan putri gurunya itu, sampai-sampai ia melakukan tindakan tak pantas terhadap putri gurunya itu. Bahkan, pada malam hari, Dewi Roroyono dibawa lari ke Mandalika. Sewaktu Sunan Ngerang mengetahui peristiwa tersebut, ia berikrar akan menikahkan putrinya dengan siapapun yang berhasil membawanya kembali. Setelah mampu melumpuhkan Adipati Pathak Warak, Raden Umar Said berhasil membawa kembali Dewi Roroyono, sang guru menjodohkan putrinya dengan Raden Umar Said.

Strategi dakwah Sunan Muria dijalankan melalui:

  1. Pendekatan budaya. Dalam, misal, Sunan Muria diketahui suka menggelar seni pewayangan sejumlah dengan lakon carangan pertunjukan wayang hasil gubahan Sunan Kalijaga, seperti: Dewa Ruci, Dewa Srani, Jamus Kalimasada, Begawan Ciptaning, Semar Ambarang Jantur, dan sebagainya.
  2. Sunan Muria dianggap sebagai pencipta tembang-tembang cilik (sekar alit) jenis Sinom dan Kinanthi.

Kompleks Makam Sunan Muria berada di Bukit Muria yang terletak di kabupaten Kudus Jawa Tengah dan berada di ketinggian lebih dari 1600 meter di atas permukaan laut.

Sunan Muria bernama Umar Said putra Sunan Kalijaga. Ia dan Sunan Kudus berguru pada Sunan Ngerang. Strategi dakwahnya: Pendekatan budaya. Sunan Muria suka menggelar wayang hasil gubahan Sunan Kalijaga, seperti: Dewa Ruci, Jamus Kalimasada, dan sebagainya. Pencipta tembang-tembang cilik (sekar alit) jenis Sinom dan Kinanthi. Makamnya di Bukit Muria kabupaten Kudus Jawa Tengah.

  • Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
Gambar Ilustrasi – Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati bernama Hidayatullah atau Sayyid Al-Kamil. Ia lahir tahun 1448 M dari pasangan Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alam dan Nyai Rara Santang, putri Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran (yang setelah masuk Islam berganti nama menjadi Syarifah Mudaim).

Syarif Hidayatullah sampai di Cirebon pada tahun 1470 M, yang dengan dukungan Kesultanan Demak dan Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana (seorang Tumenggung 1 Cirebon pertama sekaligus uwak Syarif Hidayatullah dari pihak ibu), ia dinobatkan menjadi Tumenggung 2 Cirebon pada tahun 1479 M dengan gelar Maulana Jati.

Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecenderungan spiritual dari kakek buyutnya, Jamaluddin Akbar al-Husaini, sehingga ketika selesai menimba ilmu di pesantren Syaikh Datuk Kahfi ia meneruskan pembelajaran agamanya ke Timur Tengah.

Pada tahun 1478 diadakan sebuah musyawarah para wali di Tuban Jawa Timur untuk mencari pengganti Sunan Ampel sebagai pimpinan para wali, akhirnya terpilihlah Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Sejak saat itu, pusat kegiatan para wali dipindahkan ke gunung Sembung Gunung Jati Cirebon Jawa Barat. Pusat kegiatan keagamaan ini kemudian disebut sebagai Puser Bumi (pusatnya dunia).

Pada tahun 1479 M, kedudukan pangeran Walangsungsang sebagai penguasa Cirebon lalu Syarif Hidayatullah yang setelah wafat dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah.

Melalui lembaga Wali Songo, Syarif Hidayatullah selalu mendekati kakeknya, Jaya Dewata (Prabu Silih Wangi) agar berkenan memeluk Islam seperti halnya neneknya, Nyai Subang Larang yang sudah lama menjadi muslim. Tetapi hal tersebut tidak berhasil, pada tahun 1482 (saat kekuasaan kerajaan Galuh dan Sunda menjadi satu kembali dibawah Prabu Silih Wangi). Akhirnya Syarif Hidayatullah membuat maklumat yang ditujukan pada Prabu Silih Wangi (Raja Pakuan Padjajaran) bahwa Cirebon tidak lagi mengirimkan upeti.

Perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulai oleh Syarif Hidayatullah. Sunan Gunung Jati diyakini sebagai leluhur dari dinasti raja-raja kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat, seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa dan Banten.

Hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun 1487, di mana Wali Songo berperan penting dalam sejarah pendiriannya. Pada masa ini, Syarif Hidayatullah berusia sekitar 37 tahun (kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak pertama). Raden Patah sebagai Sultan, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian (Fasal) dari Kesultanan Demak.

Setelah pendirian Kesultanan Demak, menjadi masa-masa paling sulit baik bagi Syarif Hidayatullah maupun Raden Patah, karena proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan:

  1. Gangguan internal dari Kerajaan Sunda, Galuh (Jawa Barat) dan Majapahit (Jawa Tengah dan Jawa Timur).
  2. Gangguan eksternal dari Portugis yang telah mulai melakukan ekspansi di wilayah Asia Tenggara.

Raja Pakuan di awal abad 16, seiring Portugis masuk di Pasai dan Malaka, merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayatullah yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Di saat yang genting inilah Syarif Hidayatullah berperan dalam membimbing Pati Unus dalam pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten-Demak-Cirebon di Pulau Jawa dengan misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara.

Kegagalan ekspedisi jihad Pati Unus yang sangat fatal pada tahun 1521, memaksa Syarif Hidayatullah merombak pimpinan armada gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai sebagai Panglima berikutnya yang menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di Pulau Jawa, menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka.

Pada masa awal kedatangannya ke Cirebon, Syarif Hidayatullah bersama dengan Pangeran Walangsungsang sempat melakukan syiar Islam di wilayah Banten yang disebut dengan “Wahanten”, Syarif Hidayatullah dalam syiarnya menjelaskan bahwa arti jihad tidak hanya perang melawan musuh, tetapi juga perang melawan hawa nafsu. Penjelasan inilah yang kemudian menarik hati masyarakat “Wahanten” dan “Pucuk Umun” (penguasa) “Wahanten Pasisir”. Masa itu di wilayah “Wahanten” terdapat dua penguasa, yaitu Sang Surosowan (anak dari Prabu Jaya Dewata atau Silih Wangi) yang menjadi “Pucuk Umun” untuk wilayah “Wahanten Pasisir” dan Arya Suranggana yang menjadi “Pucuk Umun” untuk wilayah “Wahanten Girang”.

Di wilayah “Wahanten Pasisir” Syarif Hidayatullah bertemu dengan Nyai Kawung Anten (putri dari Sang Surosowan), keduanya menikah dan dikaruniai dua anak, yaitu Ratu Winaon (lahir 1477 M) dan Pangeran Maulana Hasanuddin (lahir pada 1478 M) atau Pangeran Sabakingkin (nama pemberian dari kakeknya Sang Surosowan).

Syarif Hidayatullah lalu kembali ke Kesultanan Cirebon untuk menerima tanggung jawab sebagai penguasa Kesultanan Cirebon pada 1479 setelah sebelumnya menghadiri rapat para Wali di Tuban yang menghasilkan keputusan menjadikan Sunan Gunung Jati sebagai pemimpin para Wali.

Strategi dakwah Syarif Hidayatullah lebih bercirikan:

  1. Kesopanan, ramah dan tamah serta suka membantu masyarakat sehingga sebagian besar masyarakat di wilayah Banten secara sukarela memeluk dan taat menjalankan Islam.
  2. Sebagian langkah-langkah dakwah Syarif Hidayatullah diwarnai pergumulan di atas matras politik.

Syarif Hidayatullah wafat pada 1568 M. yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati oleh warga Cirebon karena dimakamkan di komplek pemakaman bukit Gunung Jati, yang sekarang dikenal dengan nama Astana Gunung Sembung.

Sunan Gunung Jati bernama Hidayatullah atau Sayyid Al-Kamil. Ia lahir 1448 M putra Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alam. Strategi dakwahnya lebih bercirikan: Sikap sopan, ramah, membantu masyarakat dan diwarnai pergumulan di atas matras politik. Ia wafat pada 1568 M, dimakamkan di bukit Gunung Jati.

Ilustrasi – Wali So

Penulis: Muhammad Madarik, MA (Staf Pengajar IAI Al-Qolam Gondanglegi Malang)

Rujukan:

  • Agus Sunyoto, (2016), Atlas Walisongo, Depok: Pustaka Iman.
  • Prof. Hamka, (1981), Sejarah Umat Islam Jilid IV, Jakarta: N.V. Bulan Bintang.
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Wali_Sanga.
  • https://tirto.id/sejarah-profil-sunan-gresik-wali-penyebar-islam-pertama-di-jawa-gbdQ
Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 


Video Terbaru

Pengumuman

Diterbitkan :
3 Fasilitas yang di dapat apabila daftar di Gelombang 1 Unit MARU II
Open Registration !!! 📋📋📋 Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan..
Diterbitkan :
3 Fasilitas yang di dapat apabila daftar di Gelombang 1 Unit SMARU
Open Registration !!! 📋📋📋 Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan..
Diterbitkan :
3 Fasilitas Yang di dapat apabila daftar di Gelombang 1 Unit SMPRU
Open Registration !!! 📋📋📋 Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan..