Info Pondok
Selasa, 16 Apr 2024
  • Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan : 1. Tahfidzul Qur'an 2. Gramatikal Kitab Kuning 3. Intensif Bahasa Inggris
  • Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan : 1. Tahfidzul Qur'an 2. Gramatikal Kitab Kuning 3. Intensif Bahasa Inggris
24 September 2023

PESANTREN: CANDRADIMUKA GENERASI TANGGUH

Ming, 24 September 2023 Dibaca 51x

Kadangkala profil para santri digambarkan sebagai komunitas anak muda yang siap hidup dimana pun. Sering kali didengungkan bahwa santri telah pasang kuda-kuda seusai rampung dari pesantren, jika harus berjibaku dengan kemiskinan, berkelahi melawan kemelaratan, dan bergelut menandingi cadasnya problematika kehidupan. Santri selalu saja diandaikan sebagai generasi yang lihai melakukan lompatan zigzag agar tidak terjerumus dalam lobang malapetaka. Dan andai kata terlanjur berada kubangan masalah, santri dilukiskan sebagai sosok yang pantang menangisi nasib. Oleh karena itu, berputus harapan tidak pernah ditemukan dalam kamus besar para santri. Tentu pujian sedemikian rupa bukan isapan jempol belaka.
Memang tidak ideal sebagaimana ungkapan di atas, tentu banyak dinamika yang mewarnai hidup keseharian dunia pesantren. Tidak bisa di sanggah bila terdengar kabar terdapat satu dua santri yang berperilaku tidak sesuai fitrah pesantren. Bahkan juga tidak dapat ingkari jika tersebar informasi muncul kasus-kasus yang melibatkan kiai sebagai tokoh sentralnya dan cenderung melumuri keagungan tempat yang sering kali disebut penjara suci itu. Tetapi perlu diingat, bahwa peristiwa demi peristiwa itu terjadi akibat olah oknum. Oleh sebab itulah, tidak bisa suatu kasus di satu pesantren digeneralisir sebagai klaim seluruh komunitas pesantren. Alhasil, secara umum hingga saat ini pesantren tampil seksi sebagai candradimuka pendidikan karakter sekaligus pusat ilmu keislaman yang masih terjaga orisinalnya. Hal bisa dilacak dari jejak-jejak lembaga orang-orang sarungan itu, bahwa dalam catatan sejarah pesantren di tanah air ini belum pernah meletus, apalagi secara massal, perkelahian antar santri dari pesantren satu dengan pesantren lainnya. Fakta ini tentu saja tidak berbanding lurus dengan fenomena yang terjadi di lembaga-lembaga non pesantren, dimana informasi tentang kerusuhan antar pelajar bukan saja telah membuat miris, bahkan sudah menjadikan sebagian besar warga masyarakat merasa muak mendengar beritanya.
Di dalam lingkungan pesantren, para santri tidak saja diajari ilmu pengetahuan, tetapi lebih dari itu mereka juga dilatih praktik-praktik ibadah, dan dituntun untuk membiasakan diri melakukan pengabdian. Ketiganya merupakan rangkaian aspek-aspek pengajaran yang di-tarbiyah-kan secara terus menerus sehingga diproyeksikan akan menjadi bagian dari karakter dan jati diri seorang santri.
Bila sekarang ada sebagian pihak di luar kaum santri acap kali menepuk dada dengan menggaungkan metode pembelajaran yang dinamai “full day school”, bagi kalangan santri fenomena tersebut bukanlah sesuatu yang mencengangkan. Sebab semenjak awal, santri sudah berjibaku dengan seluruh varian pembelajaran sepanjang siang dan malam. Ternyata kaum santri tidak pernah sekalipun membusungkan dada, kendati selama 24 jam nyaris semua dimensi kehidupan mereka bernilai pendidikan.
Betapa tidak. Rotasi hidup keseharian para santri melingkar dari satu titik yang kemudian pada proses berikutnya kembali kepada titik awal. Diluar istirahat, kegiatan mereka dimulai sebelum subuh, lalu berulang pada aktivitas yang sama. Secara individu para santri harus berjuang mengelola waktu, keuangan, dan kebutuhan-kebutuhan pribadinya untuk mampu bertahan hidup dengan caranya. Dan secara kolektif mereka juga di tantang untuk mampu menata dirinya supaya dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesama rekannya dari ragam latar keluarga, lingkungan, budaya dan bahkan bahasa yang berbeda-beda. Belum lagi di pundak mereka dibebani untuk menjalani tiga pengajaran yang di-tarbiyah-kan tersebut dengan tekun dan serius.
Sistem belajar model pesantren telah nyata menghasilkan anak zaman yang sanggup menelusuri setiap sudut-sudut lorong waktu. Keharusan tetap survive di tengah-tengah tuntutan para santri wajib menjalani rentetan aktivitas yang memutar secara berkelanjutan, menciptakan diri mereka menjelma menjadi generasi-generasi yang memiliki tingkat intelektualitas kukuh, sekaligus mempunyai spiritualitas teguh, disamping tersimpan dalam jiwanya emosional yang benar-benar tangguh.

Penulis : Madarik Yahya
Staf Pengajar IAI Al-Qolam Gondanglegi Malang

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 


Video Terbaru

Pengumuman

Diterbitkan :
3 Fasilitas yang di dapat apabila daftar di Gelombang 1 Unit MARU II
Open Registration !!! 📋📋📋 Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan..
Diterbitkan :
3 Fasilitas yang di dapat apabila daftar di Gelombang 1 Unit SMARU
Open Registration !!! 📋📋📋 Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan..
Diterbitkan :
3 Fasilitas Yang di dapat apabila daftar di Gelombang 1 Unit SMPRU
Open Registration !!! 📋📋📋 Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan..