Info Pondok
Selasa, 16 Apr 2024
  • Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan : 1. Tahfidzul Qur'an 2. Gramatikal Kitab Kuning 3. Intensif Bahasa Inggris
  • Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan : 1. Tahfidzul Qur'an 2. Gramatikal Kitab Kuning 3. Intensif Bahasa Inggris
24 Desember 2023

POLA INTERAKSI DI PESANTREN

Ming, 24 Desember 2023 Dibaca 19x

POLA INTERAKSI DI PESANTREN

Pondok pesantren seperti dikemukakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merupakan sub kultur masyarakat. Pesantren dianggap sebagai komunitas yang memiliki eksklusifitas sendiri dan cenderung terisolir dari sistem kehidupan publik, sehingga dinamika pola hidup kalangan pesantren benar-benar diwarnai independensi yang cukup mandiri (solid independence) dari segala macam intervensi dari dunia luar. Dengan eksistensi demikian, di dalam lindungan pesantren terdapat kultur sendiri yang terlepas dari dinamika kehidupan masyarakat.
Seperti dimaklumi, pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan agama Islam yang dipandang oleh kebanyakan pihak bersifat non formal dan sekaligus berperan sebagai pusat dakwah islamiyah. Sejak awal pesantren bertumbuh berbarengan dengan pengakuan masyarakat (public recognition). Model kelembagaan dengan sistem asrama menjadikan pesantren betul-betul terpagari dari hiruk-pikuk kemelut kehidupan luar.
Pola interaksi kalangan santri menyebabkan lahirnya komunitas baru di tengah-tengah kehidupan sosial sebagaimana diistilahkan oleh Gus Dur sebagai sub kultur masyarakat.
Sistem kehidupan yang cenderung terisolir dan tampak lebih terpinggirkan menjadikan pesantren tampil seperti miniatur masyarakat nusantara dengan segala khazanah dan kekayaannya. Bentuk-bentuk aktivitas, corak relasi sosial dan carut marut kemelut sehari-hari di dalam lingkungan pesantren nyaris muncul bagai gambar kecil (small picture) yang mengabstraksikan segala macam riak-riak dinamika kehidupan masyarakat.
Kegiatan-kegiatan kepesantrenan (ma’hadiyah), aktivitas-aktivitas sekolah (madrasiyah), beserta rutinitas-rutinitas keseharian masing-masing santri tentu lebih mendorong terjadinya interaksi sosial dengan coraknya sendiri. Berbagai macam latarbelakang para santri, baik latar keluarga, latar pendidikan maupun latar lingkungan, secara alami menciptakan dunia pesantren dengan kulturnya sendiri.
Pergumulan para santri di dalam lingkungan pesantren dengan seluruh dinamika kehidupannya, memunculkan kristalisasi karakteristik masing-masing mereka yang selanjutnya terakumulasi dalam benturan dan gesekan kehidupan bersama antar santri, membuahkan warna kehidupan sosial sebanding dengan kehidupan bersama di tengah-tengah masyarakat. Apabila di dalam kehidupan masyarakat ditemukan ragam nilai-nilai kehidupan sosial, misalnya saling tolong-menolong , saling memberi dan menerima toleransi (take and give), dan saling menghargai antar warga masyarakat, bahkan dijumpai wujudnya kearifan lokal (local wisdom) di tengah-tengah masyarakat, maka seperti itu pula dinamika kehidupan antar santri. Perbedaan bahasa daerah, dan suku lalu menyatu dalam kehidupan keseharian para santri menjadikan geliat kehidupan sosial mereka terasa begitu dinamis sebagaimana kultur kehidupan masyarakat.
Demikian juga sisi-sisi gelap kehidupan sosial masyarakat, seperti kecamuk egoisme individu, dan gejolak fanatisme golongan, lalu melahirkan percekcokan, pertikaian, dan bahkan terkadang berbuntut tawuran antar kelompok masyarakat, maka begitu pula warna kehidupan para santri. Tetapi di bawah bimbingan secara terus menerus (istiqamah) dan penyertaan langsung pengasuh (kiai) yang tampil sebagai sosok dengan tipologi kepemimpinan (leadership) absolut, maka kedaulatan kehidupan para santri bisa dipantau dan bahkan kebebasan tanpa alur tidak sampai menjadi letupan-letupan liar, sehingga sisi-sisi gelap kehidupan mereka mudah diterangi oleh ketokohan kiai yang bersifat sentralistik.
Dalam beberapa pesantren muncul fakta polarisasi kelompok yang didominasi oleh faktor etnik. Fakta demikian itu tentu bermuara pada entitas komunal masing-masing santri, hanya yang terbanyak mengelompok pada asal daerahnya, seperti santri yang domisili di Malang, mereka berkumpul sesama wilayahnya, begitu pula Madura, Surabaya, Solo, Jogjakarta, Jakarta dan seterusnya. Pilihan-pilihan kamar hunian juga acapkali dipengaruhi faktor kedaerahan, dan seringkali mereka membentuk perkumpulan (jam’iyah) yang terorganisir melalui seleksi perzona, baik lingkup kabupaten, provinsi maupun gabungan antara daerah.
Sekian dinamika yang dialami para santri mengantarkan kepribadian dan karakter mereka kian terbentuk. Karakteristik santri yang terasah oleh keadaan, antara lain:

Pertama, tawadhu’. Secara bahasa dimaknai kerendahan hati dan seringkali diartikan berlawanan dengan perilaku sombong yang kemudian diimplementasikan dalam sikap-sikap mengalah, tidak mengedepankan diri, dan tidak mencari menang sendiri. Tetapi di dalam lingkungan pesantren, lebih banyak ditunjukkan dalam bentuk ketertundukan, utamanya kepada kyai, keluarga pengasuh, dan jajaran pendidik. Hal yang paling kentara di dunia pesantren bisa dicermati dari sikap para santri saat bertemu kyainya, misalnya. Mereka menundukkan kepala, bersikap berdiri sembari membungkuk tanpa mengubah gerakan sedikitpun.
Sikap tawadhu’ merupakan karakter santri yang sulit ditemukan pendidikannya di luar pesantren.

Kedua, mandiri. Secara umum, mandiri berarti berdikari, atau dalam ungkapan yang sederhana diistilahkan “berdiri di atas kaki sendiri”. Ejawantah kemandirian para santri dalam fakta kehidupan sehari-hari yang terdapat di pesantren terlihat cukup nyata. Sejak awal para santri telah dikenalkan dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai hidup mandiri. Selain materi tentang kemandirian diajarkan melalui kitab-kitab kuning ditambah praktek nyata melahirkan santri yang memiliki karakter begitu khas, seperti menangani dan menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa memperdulikan status orang tua. Oleh karenanya, terkadang fasilitas pesantren yang serba terbatas harus dirasakan oleh anak orang kaya atau pejabat sekalipun. Sehingga karakter kemandirian bisa dibuktikan dengan kenyataan bahwa para santri mampu melakukan aktifitas domestik mereka sendiri, seperti mencuci, mamasak dan lain-lain.

Ketiga, sederhana. Sebagian pemerhati dunia pesantren seringkali memperlihatkan watak santri sedemikian ini dalam bentuk tampilan. Kesederhanaan para santri tercermin dari cara berpakaian; baju biasa saja, berkopyah dan sarung, dinilai menjadi model khas anak pesantren. Tidak heran terkait kekhasan kaum santri ini kemudian muncul istilah “Kota Santri”. Tetapi kesederhanaan santri bukan hanya sekedar penampilan belaka, namun lebih menunjukkan pribadi yang sederhana dalam cara berfikir dan bersikap, sehingga kelompok yang seringkali disebut “kaum sarungan” itu, di dalam pergaulan sehari-hari ternyata memiliki tingkat kepedulian (responbilitas) yang tinggi kepada sesama, termasuk terhadap lingkungan.
Kesederhanaan santri bukan hanya penampilan saja, tetapi sederhana dalam cara berfikir dan bersikap.

Keempat, toleransi. Sebagai miniatur masyarakat luas, dunia pesantren memuat kemajukan kultur, dan ragam karakter masing-masing santri. Tentu gesekan macam-macam kepentingan tidak mungkin dilenyapkan sekecil apapun. Namun karena para telah dibekali norma-norma agama, maka setiap tindakan yang menyangkut hajat orang banyak senantiasa dinomor-wahidkan. Sebab itulah, di dalam lingkungan pesantren begitu tampak sikap mengalah, gotong royong dan saling tolong menolong mayoritas santri. Kendati ego sektoral dan karakter individualis terkadang menguap, tetapi seiring putaran waktu pendidikan pesantren mampu menjadikan watak toleransi para santri mendominasi kultur budaya mereka. Nuansa keramahan “generasi kaum nahdliyin” itu dalam interaksi sosial benar-benar menyulap citra entitas pesantren menjadi berbinar dalam pandangan publik. Salah satu bukti narasi tersebut, acapkali muncul kondisi anak bangsa di era millenial ini tengah dilanda krisis moral, ternyata bukan kalangan santri.
Fenomena tawuran antar pelajar sebagai pertanda intoleransi ternyata bukan kalangan santri.

Kendati tersisa sekian banyak pembelajaran karakter yang belum diuraikan, tetapi keempat butir watak santri di atas merupakan “cambuk” bagi khalayak untuk menghidupkan kembali karakter generasi bangsa dengan cara memupuk jiwa spiritualitas tinggi yang kemudian diejawentah dalam peran-peran sosial di masyarakat. Kehadiran pondok pesantren menjadi secercah harapan di tengah-tengah problematika kemerosotan moral generasi muda.[]

Penulis : Muhammad Madarik
Staf pengajar IAI Al-Qolam Gondanglegi Malang

Artikel ini memiliki

1 Komentar

Tinggalkan Komentar

 


Video Terbaru

Pengumuman

Diterbitkan :
3 Fasilitas yang di dapat apabila daftar di Gelombang 1 Unit MARU II
Open Registration !!! 📋📋📋 Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan..
Diterbitkan :
3 Fasilitas yang di dapat apabila daftar di Gelombang 1 Unit SMARU
Open Registration !!! 📋📋📋 Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan..
Diterbitkan :
3 Fasilitas Yang di dapat apabila daftar di Gelombang 1 Unit SMPRU
Open Registration !!! 📋📋📋 Penerimaan Santri dan Peserta Didik Baru (PPDB)Tahun Pelajaran 2024/2025 Program Unggulan..